Friday, September 13, 2013

Ti Amo Per Sempre

Di pagi hari yang cerah itu terdengar suara kicauan burung burung yang melantunkan nada nada yang indah disaat itu aku masih didalam dunia mimpiku memimpikan seorang wanita yang wajahnya tidak bisa kulihat dengan jelas mengenakan seragam sekolah aku tidak tau apakah wanita itu jodohku. Terdengar dari jauh ada suara yang memanggilku .
“Yoga....”. semakin lama suara itu seperti semakin dekat.
“Yoga!! Bangun ini udah siang kamu nggak sekolah apa”.
“hoaaahmm iya ma yoga bangun.” Ternyata suara itu suara mama yang ngebangunin aku seperti biasa, tapi dibayanganku masih terkenang wanita yang ada di mimpiku itu.
“yoga! Mandinya udah belom? Kalo sudah buruan kebawah sarapan dulu gih!”
“iya ma bentar lagi yoga kebawah.” Dengan bergegas aku kebawah dan mengambil sarapan setelah sarapan akupun langsung bergegas kesekolah takut terlambat karena jarak dari rumah kesekolah cukup jauh.
Sesampai dikelaspun aku masih membayangkan sosok wanita itu. Yang masih menjadi pikiranku siapa sosok wanita itu tapi satu yang pasti wanita itu memakai seragam sekolah yang sama denganku. Sedang khusuknya aku membayangkan wanita itu tiba tiba dari belakang aku dikejutkan oleh Fania.
“Hoi masih pagi udah ngelamun aje lu.” Tegur fania sambil memukul pundakku.
“ah nggak bukan apa apa fan.”
“hayo lo ngebayangin yang macem macem ya?.”
“anjrit lu kira gua cowok apaan.”  akupun mencubit pipi Fania dan fania pun balas mencubit pipiku dan berkata.
“elu kan laki laki mupeng hahaha.” Fania pun tertawa sambil mencubit pipiku dan setelah berselang beberapa menit aku bercanda ria bersama fania bel pun berbunyi dan pelajaran pun dimulai.

Tettt...tettt... bunyi bel panjang dan nyaring pun berbunyi waktunya pulang pun telah tiba. Aku yang sudah membereskan barang barangku dimeja langsung keluar kelas untuk pulang. Saat diluar kelas aku melihat fania duduk termenung dikoridor dekat lapangan basket aku pun mendekatinya.
“hoi fan ngapain lo duduk sendirian disini.... .” saat aku melihat wajah fania aku melihat air mata telah berjatuhan dipipinya.
“fan lo kenapa?” tanyaku kepada fania tiba tiba fania  langsung memelukku dan tangisannya pun semakin kencang.
“ga.... aku nggak terima ga... .” ujar fania dengan terseduh seduh
“nggak terima apa? lo kenapa sih fan perasaan tadi pagi lo cengengesan aje. “
“aku.. aku baru diputusin oleh adit ga. Dia lebih milih cewek lain terus... mutusin aku ga.”  Tangisannya pun semakin kencang. Tidak tega melihat fania menangis seperti itu akupun nenangin fania.
“udah fan ikhlasin aja cowok kayak adit mah nggak usah dipikirin toh masih banyak cowok lain didunia yang lebih dari adit. Jadi lo santai aje fan nggak usah cengeng gitu ah.” Ucapku sambil ngehapus air mata fania.
“tapi ga.. aku udah sayang banget sama dia ga tapi dianya malah buat aku sakit hati.”
“iya iya aku ngerti tapi daripada elo terus terusan kayak gini takutnya elo kenapa napa. Lupain aja adit fan toh dia juga udah ngelupain lo kan.” Ujarku meyakinkan fania.
“iya tapi... “
“udah gua janji gua bakal ngebantu lo ngelupain adit oke. Tapi lo harus janji sesuatu sama gua.”
“janji? Janji apaan ga?” tanya fania dengan heran yang masih disertai sedikit tangisannya.
“lo harus janji sama gua nggak bakal nangis lagi. Gua nggak suka ngeliat cewek yang cengeng kayak gitu lagipula kalo lo nangis cantik lo tiba tiba hilang.” Ujarku menghibur fania.
“ah lo ga bisa aja. Iya aku janji nggak bakal jadi cewek cengeng lagi thanks ya ga udah mau dengerin dan ngehibur aku. “ ucap fania sambil ngehapus air mata di pipinya.
“iya sama sama. nah kalo lo nggak nangis lagi lo jadi keliatan cantik lagi fan.” Rayuku ke fania.
“ah lo ga ngegombal mulu.” Seketika pipi fania berubah menjadi merah mungkin malu karena gua rayu terus terusan.
“eh mau pulang nggak? Aku anterin deh ayok buruan. “ ajakku ke fania.
“ah nggak ngerepotin kan?”
“ah lo kayak baru kenal gua hari ini aje.” Kami pun pulang bersama sebelum mengantar fania pulang aku pun mengajak fania jalan jalan keliling kota buat ngehibur dia nggak kerasa hari pun mulai gelap dan aku pun mengantar fania pulang kerumahnya.
“lo nggak mampir dulu ga?” ajak fania
“nggak usah fan udah malem kasian bos besar udah nunggu. Ya udah gua pulang dulu yak.”
“iya ga makasih ya udah ngehibur aku.” Ujar fania dengan senyuman manisnya yang telah kembali yang membuat aku terdiam sejenak, Tuhan apa yang aku rasakan saat melihat fania tersenyum kenapa hatiku bergetar dengan kencang apa aku menyukainya? Apa wanita yang  ada di mimpiku itu adalah fania? Nggak fania itu sahabat aku dari kecil nggak mungkin aku suka sama dia.
“ga... yoga... halo! katanya mau pulang?” fania keheranan saat melihat aku bengong ngemandangin wajahnya.  
 “ah iya fan....” aku pun langsung tersadar dari lamunanku.
“katanya mau pulang kok malah bengong gitu.”
“ah nggak apa apa fan yaudah aku pulang dulu ya. Bye.”
“iya hati hati dijalan ga.” Setelah itu aku pun menuju rumah karena hari mulai semakin malam. Selama diperjalanan aku pun terbayang wajah fania dengan senyuman manisnya.
“tuhan apakah fania jodohku? Tapi dia adalah sahabatku bagaimana mungkin aku bisa menyukainya?” ujarku didalam hati. Seketika kontroversi hati pun terjadi. Saat sesampainya dirumah setelah selesai mandi aku pun berbaring di kasur dan terus terbayang senyuman fania. Drrrttt… Drrrttt handphone ku tiba tiba bergetar.

“One message received”
Fania Anggreini Shahab
Received:  20 : 07
Ga kamu udah nyampe dirumah?

Bbm fania kepadaku. Malam ini entah kenapa keadaanya berubah nggak seperti biasanya Bbm fania sepertinya sangat berharga bagiku. Aku pun membalas Bbm Fania.

Yoga Ardiansyah
Sent 20 : 10
Udah Fan. Emangnya kenapa?

beberapa menit aku menunggu fania belum membalas bbmku. Ah ada apa ini kenapa tiba tiba aku berharap fania membalas bbm ku. Kami hanya sahabat nggak lebih. Drrrttt… Drrrttt akhirnya fania membalas juga

Fania Anggreini Shahab
Received 20 : 20
Ah nggak apa apa aku Cuma mau mastiin kamu selamet sampe rumah. Eh besok ada waktu nggak kita jalan yuk?

Ah fania ngajakin jalan mungkin itu kesempatanku untuk mengungkapkan semua apa yang kurasa saat ini. Aku pun langsung membalas Bbm fania

Yoga Ardiansyah
Sent 20: 26
Oke... besok sekalian ada sesuatu yang mau gua omongin. Jam 10 : 00 aku jemput kamu ya fan.

Dan fania pun membalas..


Fania Anggreini Shahab
Received 20 : 35
Oke. Mau ngomongin apa ga?

Fan aku mau ngomong kalo aku suka sama kamu tapi kalo aku bilang sekarang kayaknya waktunya nggak pas. Aku pun membalas Bbm Fania

Yoga Ardiansyah
Sent 20 : 47
Ah gua mau nembak seseorang jadi gua butuh saran dari lo fan

Fania pun tidak membalas Bbmku lagi seketika aku pun bingung apa dia sudah tidur atau ada yang salah dari kata kataku. Shittt kenapa tangankutidak bisa diajak kompromi. Mungkin dia sudah tidur jadi aku mengirim Bbm ke fania lagi.

Yoga Ardiansyah
Sent 21: 13
Eh udah tidur ya fan ? Good night and have a nice dream ya J

Aku pun tidak bisa tidur karena membayangkan senyuman fania dan nervous karena aku ingin mengungkapkan perasaanku ke fania. Dan pada akhirnya aku membulatkan tekadku untuk mengungkapkan semuanya ke fania besok. Dan keesokan harinya...

Pukul 09 : 45 aku bergegas kerumah fania. Saat aku sampai didepan rumah fania aku menekan bell rumah fania berharap fania keluar. Akhirnya terdengar suara pintu terbuka dan kuharap yang membuka pintu adalah fania tapi ternyata yang membuka pintu adalah Mbok Inem pembantunya fania.
“eh mbok, fanianya ada?” tanyaku ke mbok inem.
“hah den yoga belom tau ya?”
“Belom tau apaan ya mbok?” tanyaku dengan sedikit heran.
“Non fania masuk rumah sakit mden. Semalem non fania jatuh pingsan dikamarnya jadi nyonya dan tuan cepet cepet ngebawa non fania kerumah sakit.” Seketika aku terdiam aku tidak bisa berkata apa apa. Ternyata semalam dia tidak membalas Bbmku bukan karena marah ataupun tertidur tapi jatuh pingsan. Aku harus menjenguknya ini mungkin salahku.
“ oh ya mbok. Fania dirawat dirumah sakit mana ya kalo boleh tau?”
“ non fania kalo nggak salah dirawat di Rumah Sakit Bhakti pertiwi den.”
“oh kalo gitu yoga langsung kesana ya mbok.”
“ ah iya den.”  Aku pun bergegas menuju rumah sakit Bhakti Pertiwi agar bisa bertemu Fania. Sesampainya dirumah sakit...
“suster!”
“ah iya mas ada yang bisa kami bantu?” tanya suster rumah sakit tersebut.
“eh pasien yang bernama Fania Anggreini Shahab ada diruang mana ya sus?” tanyaku dengan tergesah gesah.
“eh Fania Anggreini Shahab ya dia ada di unit gawat darurat di Lantai 2.”
“ah terimakasih suster.” Tanpa basa basi aku pun bergegas menuju ruangan yang disebutkan oleh suster tersebut dan sesampainya aku bertemu dengan orang tua fania didepan ruangan unit gawat darurat dan mereka kelihatan sangat sedih. Apa yang terjadi? Dimana fania? Apa dia baik baik saja? Hatiku terus bertanya tanya, aku pun bergegas menemui orang tua fania.
“ ah om tante gimana keadaan fania?” tanyaku dengan tergesah gesah.
“ oh yoga ya... fania... fania...” ibu fania tidak bisa berkata apa apa dan menangis terseduh seduh. Apa yang terjadi dengan fania? Kenapa ibunya menangis seperti ini?
“ga.. fania difonis terkena kanker otak dan menurut dokter fania hanya bisa bertahan selama 7 hari lagi.”seketika aku terdiam tanpa bisa mengucapkan satu katapun. Akupun terduduk didepan ruangan sambil menangis.
“nggak mungkin! Nggak mungkin fania kena kanker otak kemaren dia ceria seperti cewek cewek biasanya! Ini pasti lelucon!” teriak batinku. Dokter pun keluar dari ruangan fania dan mengatakan kalo fania sudah sadar. Saat itu orang tua fania bergegas masuk untuk melihat anaknya. Aku pun bergegas masuk untuk melihat keadaan fania.
“Fan alhamdulillah kamu udah sadar.” Ucapku
“Yoga kok kamu bisa ada disini?”
“ya iyalah gimana mungkin ada orang yang nggak tau kalo sahabatnya lagi masuk rumah sakit.”
“haha iya ya thanks ya ga dan maaf kita nggak jadi jalan gara gara keadaan aku kayak gini nanti kalo aku sudah mendingan aku janji kita bakal jalan jalan bareng.” Ucap fania dengan tersenyum.
“ iya fan kalo kamu sembuh aku ajak kamu jalan jalan kesemua tempat yang kamu mau.” Ujarku dengan batin yang menangis. Tuhan kenapa engkau harus mengambil nyawa wanita yang aku cintai kenapa bukan nyawaku saja yang kau ambil.
“ yaudah kamu istirahat dulu ya fan supaya keadaan kamu lebih baik. Aku keluar dulu ya.” Tiba tiba tangan fania memegang erat tanganku.
“ga jangan pergi ga. Kamu disini aja.” Pegangan tangan fania semakin erat.
“tapi fan.. “
“please ga...”
“nak yoga kamu bisa nemenin fania disisinya kan?” pinta ayah fania.
“baik om yoga bisa. Fan kalo kamu mau minta apa apa bilang sama aku aku selalu ada disisimu.”
“oke thanks ga.” Fania pun tersenyum. Aku tau kau menutupi rasa sakitmu dibalik senyumanmu itu. Tuhan yang harus kulakukan sekarang adalah bersamanya sampai akhir hayatnya. 2 hari sudah berlalu kondisi fania mulai membaik dan dia diizinkan untuk berkeliling di sekitar rumah sakit. Dan tiba tiba fania meminta kami (ayah dan ibu fania, serta aku)  semua untuk berkumpul.
“ga terimakasih kamu udah ada disamping aku selama ini.’ Ujar fania
“sama sama fan. Itulah tugas seorang sahabat kan?”
“oh ya ga waktu itu kamu  bilang  kamu mau nembak seseorang. Siapa orangnya?.” Tanya fania.
“ah itu..” aku tidak bisa mengucapkan apa apa.
“kok diem sih ga?” tanya fania dengan heran.seketika air mataku mengalir dan aku tidak bisa berkata apa - apa
“ngapain kamu nangis ga? masak laki laki nangis gitu.” Ucap fania dengan wajah tersenyum.
“fan maaf.  Gua baru bisa bilang ini sekarang cewek yang mau gua tembak itu elo fan. I LOVE YOU fan.” Sambil menangis aku pun mengatakannya ke fania. Fania pun terdiam sejenak beberapa menit kemudian fania tersenyum dan bercampur dengan air mata.
“ I LOVE YOU TOO ga. Aku udah sayang sama kamu dari dulu tapi kamu nggak pernah tau apa yang aku rasa akhirnya aku jadian dengan adit bermaksud untuk ngelupain perasaan ini ke kamu tapi setelah aku putus dari adit kamu ngehibur aku dan perasaan itu pun tumbuh lagi.”
“fan gua janji gua bakal selalu ada disamping lo sampai akhir hayat lo fan. I LOVE YOU fan FOREVER.”
“thanks ga sudah mau mencintai aku.Aku bisa tenang ngedengernya mungkin sekarang aku bisa mati dengan tenang .” Aku terkejut mendengarkan fania berkata seperti itu.
“kamu ngomong apa fan?! Kamu nggak bakal mati fan!!”
“ayah... tolong jaga ibu. Terima kasih ayah sudah membesarkan aku dan memberi aku kasih sayang. ayah juga jangan bekerja terlalu keras, nanti ayah kelelahan..”
“Iya fan ayah janji akan ngejaga ibu.”
“ibu... terimakasih atas semua yang ibu berikan. Ibu harus jadi istri yang baik buat ayah. Dan ibu jangan nangis lagi. Fania Cuma pengen ngeliat ibu tersenyum untuk yang terakhir kalinya.”
“ayah ... ibu aku ingin memeluk kalian berdua.. terima kasih atas semua yang kalian berikan padaku.. maaf aku hanya menjadi beban bagi ayah, ibu dan yoga. aku sayang dan bahagia punya kalian juga keluarga ini.. biarkan aku pergi dan antar aku dengan senyuman  ayah, ibu, dan yoga... I LOVE YOU ALL.” Dan akhirnya faniapun menutup matanya dan menghembuskan nafasnya untuk yang terakhir kalinya. Fania kau adalah satu satunya orang yang membuat hidupku berarti walaupun kau telah pergi bagi kami kau tetap ada disisi kami. FANIA TI AMO PER SEMPRE ( FANIA I LOVE YOU FOREVER).

********************************THE END******************************************