Di pagi hari yang cerah itu
terdengar suara kicauan burung burung yang melantunkan nada nada yang indah
disaat itu aku masih didalam dunia mimpiku memimpikan seorang wanita yang
wajahnya tidak bisa kulihat dengan jelas mengenakan seragam sekolah aku tidak
tau apakah wanita itu jodohku. Terdengar dari jauh ada suara yang memanggilku .
“Yoga....”. semakin lama suara
itu seperti semakin dekat.
“Yoga!! Bangun ini udah siang
kamu nggak sekolah apa”.
“hoaaahmm iya ma yoga bangun.”
Ternyata suara itu suara mama yang ngebangunin aku seperti biasa, tapi
dibayanganku masih terkenang wanita yang ada di mimpiku itu.
“yoga! Mandinya udah belom? Kalo
sudah buruan kebawah sarapan dulu gih!”
“iya ma bentar lagi yoga kebawah.”
Dengan bergegas aku kebawah dan mengambil sarapan setelah sarapan akupun
langsung bergegas kesekolah takut terlambat karena jarak dari rumah kesekolah
cukup jauh.
Sesampai dikelaspun aku masih
membayangkan sosok wanita itu. Yang masih menjadi pikiranku siapa sosok wanita
itu tapi satu yang pasti wanita itu memakai seragam sekolah yang sama denganku.
Sedang khusuknya aku membayangkan wanita itu tiba tiba dari belakang aku
dikejutkan oleh Fania.
“Hoi masih pagi udah ngelamun
aje lu.” Tegur fania sambil memukul pundakku.
“ah nggak bukan apa apa fan.”
“hayo lo ngebayangin yang macem
macem ya?.”
“anjrit lu kira gua cowok
apaan.” akupun mencubit pipi Fania dan
fania pun balas mencubit pipiku dan berkata.
“elu kan laki laki mupeng
hahaha.” Fania pun tertawa sambil mencubit pipiku dan setelah berselang beberapa
menit aku bercanda ria bersama fania bel pun berbunyi dan pelajaran pun
dimulai.
Tettt...tettt... bunyi bel panjang
dan nyaring pun berbunyi waktunya pulang pun telah tiba. Aku yang sudah
membereskan barang barangku dimeja langsung keluar kelas untuk pulang. Saat
diluar kelas aku melihat fania duduk termenung dikoridor dekat lapangan basket
aku pun mendekatinya.
“hoi fan ngapain lo duduk
sendirian disini.... .” saat aku melihat wajah fania aku melihat air mata telah
berjatuhan dipipinya.
“fan lo kenapa?” tanyaku kepada
fania tiba tiba fania langsung memelukku
dan tangisannya pun semakin kencang.
“ga.... aku nggak terima ga...
.” ujar fania dengan terseduh seduh
“nggak terima apa? lo kenapa sih
fan perasaan tadi pagi lo cengengesan aje. “
“aku.. aku baru diputusin oleh
adit ga. Dia lebih milih cewek lain terus... mutusin aku ga.” Tangisannya pun semakin kencang. Tidak tega
melihat fania menangis seperti itu akupun nenangin fania.
“udah fan ikhlasin aja cowok
kayak adit mah nggak usah dipikirin toh masih banyak cowok lain didunia yang
lebih dari adit. Jadi lo santai aje fan nggak usah cengeng gitu ah.” Ucapku
sambil ngehapus air mata fania.
“tapi ga.. aku udah sayang
banget sama dia ga tapi dianya malah buat aku sakit hati.”
“iya iya aku ngerti tapi daripada
elo terus terusan kayak gini takutnya elo kenapa napa. Lupain aja adit fan toh
dia juga udah ngelupain lo kan.” Ujarku meyakinkan fania.
“iya tapi... “
“udah gua janji gua bakal
ngebantu lo ngelupain adit oke. Tapi lo harus janji sesuatu sama gua.”
“janji? Janji apaan ga?” tanya
fania dengan heran yang masih disertai sedikit tangisannya.
“lo harus janji sama gua nggak
bakal nangis lagi. Gua nggak suka ngeliat cewek yang cengeng kayak gitu
lagipula kalo lo nangis cantik lo tiba tiba hilang.” Ujarku menghibur fania.
“ah lo ga bisa aja. Iya aku
janji nggak bakal jadi cewek cengeng lagi thanks ya ga udah mau dengerin dan
ngehibur aku. “ ucap fania sambil ngehapus air mata di pipinya.
“iya sama sama. nah kalo lo
nggak nangis lagi lo jadi keliatan cantik lagi fan.” Rayuku ke fania.
“ah lo ga ngegombal mulu.”
Seketika pipi fania berubah menjadi merah mungkin malu karena gua rayu terus
terusan.
“eh mau pulang nggak? Aku
anterin deh ayok buruan. “ ajakku ke fania.
“ah nggak ngerepotin kan?”
“ah lo kayak baru kenal gua hari
ini aje.” Kami pun pulang bersama sebelum mengantar fania pulang aku pun
mengajak fania jalan jalan keliling kota buat ngehibur dia nggak kerasa hari
pun mulai gelap dan aku pun mengantar fania pulang kerumahnya.
“lo nggak mampir dulu ga?” ajak
fania
“nggak usah fan udah malem
kasian bos besar udah nunggu. Ya udah gua pulang dulu yak.”
“iya ga makasih ya udah ngehibur
aku.” Ujar fania dengan senyuman manisnya yang telah kembali yang membuat aku
terdiam sejenak, Tuhan apa yang aku rasakan saat melihat fania tersenyum kenapa
hatiku bergetar dengan kencang apa aku menyukainya? Apa wanita yang ada di mimpiku itu adalah fania? Nggak fania
itu sahabat aku dari kecil nggak mungkin aku suka sama dia.
“ga... yoga... halo! katanya mau
pulang?” fania keheranan saat melihat aku bengong ngemandangin wajahnya.
“ah iya fan....” aku pun langsung tersadar
dari lamunanku.
“katanya mau pulang kok malah
bengong gitu.”
“ah nggak apa apa fan yaudah aku
pulang dulu ya. Bye.”
“iya hati hati dijalan ga.”
Setelah itu aku pun menuju rumah karena hari mulai semakin malam. Selama
diperjalanan aku pun terbayang wajah fania dengan senyuman manisnya.
“tuhan apakah fania jodohku?
Tapi dia adalah sahabatku bagaimana mungkin aku bisa menyukainya?” ujarku
didalam hati. Seketika kontroversi hati pun terjadi. Saat sesampainya dirumah
setelah selesai mandi aku pun berbaring di kasur dan terus terbayang senyuman
fania. Drrrttt… Drrrttt handphone ku tiba tiba bergetar.
“One message received”
Fania Anggreini Shahab
Received: 20 : 07
Ga kamu udah nyampe dirumah?
Bbm fania kepadaku. Malam ini
entah kenapa keadaanya berubah nggak seperti biasanya Bbm fania sepertinya
sangat berharga bagiku. Aku pun membalas Bbm Fania.
Yoga Ardiansyah
Sent 20 : 10
Udah Fan. Emangnya kenapa?
beberapa menit aku menunggu
fania belum membalas bbmku. Ah ada apa ini kenapa tiba tiba aku berharap fania
membalas bbm ku. Kami hanya sahabat nggak lebih. Drrrttt… Drrrttt akhirnya
fania membalas juga
Fania Anggreini Shahab
Received 20 : 20
Ah nggak apa apa aku Cuma mau
mastiin kamu selamet sampe rumah. Eh besok ada waktu nggak kita jalan yuk?
Ah fania ngajakin jalan mungkin
itu kesempatanku untuk mengungkapkan semua apa yang kurasa saat ini. Aku pun
langsung membalas Bbm fania
Yoga Ardiansyah
Sent 20: 26
Oke... besok sekalian ada
sesuatu yang mau gua omongin. Jam 10 : 00 aku jemput kamu ya fan.
Dan fania pun membalas..
Fania Anggreini Shahab
Received 20 : 35
Oke. Mau ngomongin apa ga?
Fan aku mau ngomong kalo aku
suka sama kamu tapi kalo aku bilang sekarang kayaknya waktunya nggak pas. Aku
pun membalas Bbm Fania
Yoga Ardiansyah
Sent 20 : 47
Ah gua mau nembak seseorang jadi
gua butuh saran dari lo fan
Fania pun tidak membalas Bbmku
lagi seketika aku pun bingung apa dia sudah tidur atau ada yang salah dari kata
kataku. Shittt kenapa tangankutidak bisa diajak kompromi. Mungkin dia sudah
tidur jadi aku mengirim Bbm ke fania lagi.
Yoga Ardiansyah
Sent 21: 13
Eh udah tidur ya fan ? Good
night and have a nice dream ya J
Aku pun tidak bisa tidur karena membayangkan
senyuman fania dan nervous karena aku ingin mengungkapkan perasaanku ke fania.
Dan pada akhirnya aku membulatkan tekadku untuk mengungkapkan semuanya ke fania
besok. Dan keesokan harinya...
Pukul 09 : 45 aku bergegas
kerumah fania. Saat aku sampai didepan rumah fania aku menekan bell rumah fania
berharap fania keluar. Akhirnya terdengar suara pintu terbuka dan kuharap yang
membuka pintu adalah fania tapi ternyata yang membuka pintu adalah Mbok Inem
pembantunya fania.
“eh mbok, fanianya ada?” tanyaku
ke mbok inem.
“hah den yoga belom tau ya?”
“Belom tau apaan ya mbok?”
tanyaku dengan sedikit heran.
“Non fania masuk rumah sakit
mden. Semalem non fania jatuh pingsan dikamarnya jadi nyonya dan tuan cepet
cepet ngebawa non fania kerumah sakit.” Seketika aku terdiam aku tidak bisa
berkata apa apa. Ternyata semalam dia tidak membalas Bbmku bukan karena marah
ataupun tertidur tapi jatuh pingsan. Aku harus menjenguknya ini mungkin
salahku.
“ oh ya mbok. Fania dirawat
dirumah sakit mana ya kalo boleh tau?”
“ non fania kalo nggak salah
dirawat di Rumah Sakit Bhakti pertiwi den.”
“oh kalo gitu yoga langsung
kesana ya mbok.”
“ ah iya den.” Aku pun bergegas menuju rumah sakit Bhakti
Pertiwi agar bisa bertemu Fania. Sesampainya dirumah sakit...
“suster!”
“ah iya mas ada yang bisa kami
bantu?” tanya suster rumah sakit tersebut.
“eh pasien yang bernama Fania
Anggreini Shahab ada diruang mana ya sus?” tanyaku dengan tergesah gesah.
“eh Fania Anggreini Shahab ya
dia ada di unit gawat darurat di Lantai 2.”
“ah terimakasih suster.” Tanpa
basa basi aku pun bergegas menuju ruangan yang disebutkan oleh suster tersebut
dan sesampainya aku bertemu dengan orang tua fania didepan ruangan unit gawat
darurat dan mereka kelihatan sangat sedih. Apa yang terjadi? Dimana fania? Apa
dia baik baik saja? Hatiku terus bertanya tanya, aku pun bergegas menemui orang
tua fania.
“ ah om tante gimana keadaan
fania?” tanyaku dengan tergesah gesah.
“ oh yoga ya... fania...
fania...” ibu fania tidak bisa berkata apa apa dan menangis terseduh seduh. Apa
yang terjadi dengan fania? Kenapa ibunya menangis seperti ini?
“ga.. fania difonis terkena
kanker otak dan menurut dokter fania hanya bisa bertahan selama 7 hari
lagi.”seketika aku terdiam tanpa bisa mengucapkan satu katapun. Akupun terduduk
didepan ruangan sambil menangis.
“nggak mungkin! Nggak mungkin
fania kena kanker otak kemaren dia ceria seperti cewek cewek biasanya! Ini
pasti lelucon!” teriak batinku. Dokter pun keluar dari ruangan fania dan
mengatakan kalo fania sudah sadar. Saat itu orang tua fania bergegas masuk
untuk melihat anaknya. Aku pun bergegas masuk untuk melihat keadaan fania.
“Fan alhamdulillah kamu udah
sadar.” Ucapku
“Yoga kok kamu bisa ada disini?”
“ya iyalah gimana mungkin ada
orang yang nggak tau kalo sahabatnya lagi masuk rumah sakit.”
“haha iya ya thanks ya ga dan
maaf kita nggak jadi jalan gara gara keadaan aku kayak gini nanti kalo aku
sudah mendingan aku janji kita bakal jalan jalan bareng.” Ucap fania dengan
tersenyum.
“ iya fan kalo kamu sembuh aku
ajak kamu jalan jalan kesemua tempat yang kamu mau.” Ujarku dengan batin yang
menangis. Tuhan kenapa engkau harus mengambil nyawa wanita yang aku cintai
kenapa bukan nyawaku saja yang kau ambil.
“ yaudah kamu istirahat dulu ya
fan supaya keadaan kamu lebih baik. Aku keluar dulu ya.” Tiba tiba tangan fania
memegang erat tanganku.
“ga jangan pergi ga. Kamu disini
aja.” Pegangan tangan fania semakin erat.
“tapi fan.. “
“please ga...”
“nak yoga kamu bisa nemenin
fania disisinya kan?” pinta ayah fania.
“baik om yoga bisa. Fan kalo
kamu mau minta apa apa bilang sama aku aku selalu ada disisimu.”
“oke thanks ga.” Fania pun
tersenyum. Aku tau kau menutupi rasa sakitmu dibalik senyumanmu itu. Tuhan yang
harus kulakukan sekarang adalah bersamanya sampai akhir hayatnya. 2 hari sudah
berlalu kondisi fania mulai membaik dan dia diizinkan untuk berkeliling di
sekitar rumah sakit. Dan tiba tiba fania meminta kami (ayah dan ibu fania,
serta aku) semua untuk berkumpul.
“ga terimakasih kamu udah ada
disamping aku selama ini.’ Ujar fania
“sama sama fan. Itulah tugas
seorang sahabat kan?”
“oh ya ga waktu itu kamu bilang kamu mau nembak seseorang. Siapa orangnya?.”
Tanya fania.
“ah itu..” aku tidak bisa
mengucapkan apa apa.
“kok diem sih ga?” tanya fania
dengan heran.seketika air mataku mengalir dan aku tidak bisa berkata apa - apa
“ngapain kamu nangis ga? masak
laki laki nangis gitu.” Ucap fania dengan wajah tersenyum.
“fan maaf. Gua baru bisa bilang ini sekarang cewek yang
mau gua tembak itu elo fan. I LOVE YOU fan.” Sambil menangis aku pun
mengatakannya ke fania. Fania pun terdiam sejenak beberapa menit kemudian fania
tersenyum dan bercampur dengan air mata.
“ I LOVE YOU TOO ga. Aku udah
sayang sama kamu dari dulu tapi kamu nggak pernah tau apa yang aku rasa
akhirnya aku jadian dengan adit bermaksud untuk ngelupain perasaan ini ke kamu
tapi setelah aku putus dari adit kamu ngehibur aku dan perasaan itu pun tumbuh
lagi.”
“fan gua janji gua bakal selalu
ada disamping lo sampai akhir hayat lo fan. I LOVE YOU fan FOREVER.”
“thanks ga sudah mau mencintai
aku.Aku bisa tenang ngedengernya mungkin sekarang aku bisa mati dengan tenang .”
Aku terkejut mendengarkan fania berkata seperti itu.
“kamu ngomong apa fan?! Kamu
nggak bakal mati fan!!”
“ayah... tolong jaga ibu. Terima
kasih ayah sudah membesarkan aku dan memberi aku kasih sayang. ayah juga jangan
bekerja terlalu keras, nanti ayah kelelahan..”
“Iya fan ayah janji akan ngejaga
ibu.”
“ibu... terimakasih atas semua
yang ibu berikan. Ibu harus jadi istri yang baik buat ayah. Dan ibu jangan
nangis lagi. Fania Cuma pengen ngeliat ibu tersenyum untuk yang terakhir
kalinya.”
“ayah ... ibu aku ingin memeluk
kalian berdua.. terima kasih atas semua yang kalian berikan padaku.. maaf aku
hanya menjadi beban bagi ayah, ibu dan yoga. aku sayang dan bahagia punya
kalian juga keluarga ini.. biarkan aku pergi dan antar aku dengan senyuman ayah, ibu, dan yoga... I LOVE YOU ALL.” Dan
akhirnya faniapun menutup matanya dan menghembuskan nafasnya untuk yang
terakhir kalinya. Fania kau adalah satu satunya orang yang membuat hidupku
berarti walaupun kau telah pergi bagi kami kau tetap ada disisi kami. FANIA TI
AMO PER SEMPRE ( FANIA I LOVE YOU FOREVER).
********************************THE
END******************************************
No comments:
Post a Comment